Yang Pertama . . .

Saya Khanty Dwi Ichtyantri (ˆ⌣ˆ)ง

Yang Ke dua . . .

Gunadarma University (^__^)

Yang Ke tiga . . .

Kesalahan itu bukan untuk terus menerus disesali, tapi juga harus terus diperbaiki untuk kedepannya. Allah Maha Adil lagi Maha Pengampun :')

Yang ke empat. . .

Cuma Promosi aja HaHaHa

Yang ke lima . . .

Ini bebrapa contoh website yang pernah saya buat :-) masih pemula :-)(•ˆ⌣ˆ•)

Tampilkan postingan dengan label Cerpen ☺. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen ☺. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Ikhlas Untuk Yang Hakiki (Demi Semua)

Cerpen oleh : Khanty Dwi Ichtyantri

Ikhlas Untuk Yang Hakiki

Malem itu merupakan merupakan malam yang mebuat hati Dania sedih serta bahagia, Dania bahagia karena pada akhirnya dia bisa bertemu kekasihnya yang bernama Rudi, malam itu pun Rudi mengajak Dania untuk bertemu dengan teman-temannya. Selama pertemuan itu Dania, Rudi dan teman lainnya merasa bahagia bercerita serta bercanda bersama dan tak ada kesedihan yang terbesit dari wajah mereka hanya canda dan tawa yang nampak.
Namun setelah berakhirnya pertemuan malam itu, Rudi kekasih Dania mengajaknya untuk bicara serius. Dania bingung apa yang akan dibicarakan oleh kekasihnya itu.

“Dania.... hmm udah nonton film pendek yang kemarin ?” tanya Rudi
“Iya udah, aku hapal kok yang episode 1 sampai episode 3 hehhe..” jawab Dania dengan semangat
“Gini......” lanjut Rudi
Dania hanya menatap dengan serius sambil sesekali bertanya “Iyaaa kenapa ?”
“Jangan sekarang deh....” lanjut Rudi
“Loh kenapa ? sekarang aja. Kenapa sih ?” tanya Dania penasaran
“Besok aja deh suasananya gak mendukung sekarang...” jawab Rudi
“Iiih bikin penasaran, kenapa sih ? Kamu mau pergi ya ?” tanya balik Dania
“Pergi kemana ? ya enggalah“ jawab Rudi
“Lalu ? kenapa ?” makin penasaran Dania
“Hmmm........” lumayan lama menunggu Rudi menjawab, dan Dania hanya melihat raut wajah Rudi yang ragu-ragu untuk bercerita.
Dania pun membalas dengan memberikan raut wajah takut dan khawatir.

“Okee... gini, sepertinya kita harus jaga jarak deh” kata Rudi
“Maksudnya ?” tanya Dania kaget
“Iya kita jaga jarak, aku mau jaga kamu, aku mau ngehormatin kamu” jawab balik Rudi
“Apaan sih kamu tuh, kamu mau ngejauh dari aku ? itu alasan kamu buat ninggalin aku ?” tanya Dania sambil melihatkan matanya yang berkaca-kaca
“Gak gitu Nia. Setelah aku tonton film pendek itu aku sadar seharusnya bisa lebih menjaga kamu, harusnya aku bisa menjaga jarak sama kamu dalam artian aku menghormati diri kamu dan bisa membawa kamu ke jalan yang baik. Bukan dengan pacaran pegangan tangan, jalan berduaan, bukan itu Dania seharusnya” jawab penjelasan Rudi
“Selama ini aku bukan wanita baik-baik menurut kamu ?” tanya balik Dania dengan meneteskan air mata
“Bukaan Dania bukan, kamu wanita yang aku pilih, aku mau kamu terus sama aku, aku yakin sama kamu, tapi aku tetep pengen terus ngejaga kamu seutuhnya Dania” tegas Rudi
“Ngejaga ? maksud kamu tuh gmn sih ? selama ini kamu emang gak ngejaga aku ?” tanya Dania balik
“Iya aku ngejaga kamu, aku gak mau ada yang terluka dari kamu. Tapi yang aku maksud kali ini aku mau nejaga kamu dengan baik tanpa merusak yang ada diri kamu. Misalnya kita mau pergi bisa kan kita jalan sendiri terus janjian aja langsung di tempatnya, biar orang-orang gak mandang kamu jelek juga.” Jelas Rudi
“Maksud kamu kalau kita pergi kita gak bareng ? langsung ketemuan ? terus kalau naik motor pisah-pisah ?“ tanya Dania dengan nada agak tinggi sambil menahan isak tangis
“Iya... demi kebaikkan kamu juga” jawab Rudi lemas
“Misal kita mau datang keacara temen aku atau temen kamu, kita mesti dateng dengan beda kendaraan gitu ? etis banget apa nanti kata orang. Sama aja kalau gitu kamu udah gak anggep aku, dan mungkin salah satu cara kamu buat ngejauhin aku...” lanjut Dania dengan isak tangis yang tidak bisa dibendung.....
“Tolong jangan mikir yang aneh-aneh Dania, aku gak akan ninggalin kamu, aku juga mau cepet-cepet hubungan kita bisa halal Dania. Kalau kamu gak aku anggep untuk apa aku kenalin kamu ke orang tua aku ? buat apa kamu aku ajak ke tempat saudara-saudara aku ?“ jelas Rudi dengan mata berkaca-kaca

......... sunyi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Dania hanya isak tangis yang terdengar begitu pelik.....

“Dania semua ini demi kebaikkan kamu dan aku, aku juga lagi berusaha kerja keras buat kita nanti Dania...” ujar Rudi
Diam tidak ada jawaban apa pun dari mulut Dania, dia terliat diam dan memikirkan sesuatu......
“Dania kenapa diam ?” tanya Rudi lagi
“Aku mikir...” jawab Dania agak judes penuh isak
Agak lama Dania berdiam diri, dalam hati Dania merasa sakit, merasa bingung.....
“Kenapa kamu berubah sih Rud, biasanya kalau aku nangis kamu selalu usap air mata aku, biasanya kamu nenangin aku, tapi sekarang menghapus air mataku saja tidak” ujar Dania dalam hati.....

Semakin larut perdebatan yang terjadi semakin banyak pertanyaan yang dilontarkan Dania semakin deras pula air mata yang diteteskan dari mata Dania, semakin rumit pula pembicaraan yang terjadi hingga larut malam itu. Pembicaraan itu benar-benar membuat Dania sedih, Dania merasa apa yang salah dari dirinya.

Rudi pun terlihat tak tega melihat Dania yang menangis terus menerus.

Sangking sedih dan emosinya Dania sambil mengeluarkan kata-kata
“Kalau kamu memang mau jaga jarak sama aku, mau ngehormatin aku oke. Tapi jangan jangan pernah hubungin aku kalau ak penting, gak usah telpon-telpon aku, gak usah main kerumah aku dan gak.....”
“Dania Dania Dania.... bukan itu maksud aku Dania. Kok keliatannya malah kamu yaa yang mau jauh dari aku ?“ selak Rudi
“Kamu kok malah membalikkan fakta ? kalau aku mau jauh dari kamu buat apa aku nangis-nangis kaya gini ?“ tanya balik Dania
“Dania bukan maksud aku ninggalin atau ngejauhin kamu, aku mau jaga jarak Dania, demi kamu demi kebaikkan kamu. Kita sama-sama belajar jadi lebih baik Dania...... aku akan tetap berusaha buat kita demi kita Dania..” tegas Rudi
“Kalau gitu kita akan jarang telpon, jarang kasih kabar, jarang ketemu, aku gak bisa telpon kamu pagi-pagi, gak ada lagi kata-kata sayang, gak....”
“Sayang itu bukan hanya diucapkan, tapi dibuktikkan, dan aku akan buktiin itu semua...” lagi-lagi Rudi menyelak dengan senyuman..

Dania masih tidak bisa memjawab apapun, dia hanya diam seakan bingung dan tidak tahu apa yang harus dia katakan, hanya air mata yang masih membasahi pipinya.....

Sementara Rudi melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan puluk 11:00 malam....
“Aku pulang yaaa, sudah malam.  Gak enak jam segini belum pulang, Inshaa Allah aku kesini lagi...” kata Rudi
“Iya..” jawab Dania dengan singkat
“Aku mau pulang loh, nanti kalau ada apa-apa di jalan kamu nyesel loh..” kata Rudi sambil mengajak sedikit bercanda...
“Apaan sih ngomong kok asal banget...” jawab Dania semakin kesal
“Yaudah jangan sedih lagi yaa, nanti sampai rumah aku kabarin lagi pasti...” kata Rudi meyakinkan
“Terserah..” jawab Dania singkat lagi
“Kok kamu jadi dingin gini ke aku...” tanya Rudi sedih
“Engga, udah aku salah maaf, yaudah sana pulang hati-hati ya, ditunggu kabarnya...” jawab Dania
“Oke, aku pamit ke mama kamu dulu yaa.....” kata Rudi lalu masuk ke dalam rumah untuk pamit
“Yaudah aku pulang yaa, Assalamu’alaikum....” kata Rudi pamit

Yaaa ketika Rudi pulang Dania pun masih tidak bisa membendung air matanya dan Dania terus berpikir kenapa ini semua harus seperti ini, Dania terus berpikir sambil terus menangis. Hingga beberapa puluh menit kemudian Handphone Dania berbunyi, ternyata pesan dari Rudi yang menyampaikan bahwa dia sudah sampai rumah dan menginginkan Dania untuk tidur.
Namun Dania masih tetap terjaga dengan ditemani air mata yang terus mengalir.
“Tuhan aku tahu ini terbaik, aku sadar ini memang yang baik bagi aku dan dia. Tapi entah kenapa aku sedih dan gak bisa terima ini semua, aku ga bisa kalau harus seperti ini, 1 tahun lebih kita bareng-bareng tapi kenapa harus seperti ini pada  akhirnya.
Tuhan....
Bantu aku untuk mengikhlaskan semuanya, bantu aku untuk terus berpikir positif, tolong jangan biarkan hati ini terus kotor, jangan biarkan rasa egois ini terus mendarah daging.......” kata Dania dalam hati

Tidak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, Dania mencoba memasang earphone ke telinganya dan menyalahkan lagu-lagu dari handphone miliknya. Beriring jalannya waktu Dania ikut tidur terlelap dengan sisa cetakkan air mata yang membasahi pipinya dan bantal tidurnya dengan tetap diiringi musik yang masih menyalah dari handphonenya.

Dalam do’a Dania berharap
“Tuhan jaga dia untuk aku, Tuhan jangan pisahkan kami
Biarkan aku menyentuhnya, menggenggamnya dan memeluknya, sekali
Jika memang ini yang terbaik, bantu aku untuk mengikhlaskan ini semua
Aku tahu Tuhan, jika tidak, aku sama seperti wanita yang tidak baik”






Cerpen oleh : Khanty Dwi Ichtyantri

Senin, 22 Februari 2016

Nikmat Syukur Tiba Ditempat Mu




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waaah udah lama yaa saya tidak bercuap-cuap ditempat ini, udah banyak debu sama sarang laba-laba nih, mesti di sapu sama dip el *ga jelas*
Mau sedikit bikin cerita nih, tentang pengalaman yang tak terduga :”), boleh yaaa, yuk aah mulai aja biar gak makin lama

Entah harus bahagia atau sedih yang harus saya rasakan saat saya benar-benar tiba dan menginjak tanah Arab saat itu. Bahagia karena saya bisa pergi menjalankan ibadah umroh bersama mama serta kakak saya. Sedih karena bapak tidak ikut serta bersama kami, namun saya yakin, bapak pasti tahu dan liat bahwa kami akhirnya bisa menjalankan ibadah umroh yang memang sudah direncanakan oleh bapak sebelumnya.

Yaaa... ibadah umroh ini memang ibadah yang direncanakan sebelumnya. Bapak ingin sekali mengajak istri dan kedua anaknya untuk menjalankan ibadah umroh bersama-sama, walaupun saya tidak mengetahui rencana itu sebelumnya. Namun apa daya, keadaan bapak saat itu memang sangat tidak mendukung, penyakit jantung bapak kumat dan harus sering check up ke rumah sakit serta tidak bisa lepas dari pengawasan dokter. Dokter pun tidak mengijinkan bapak untuk terlalu banyak melakukan aktivitas, kerena dapat menyebabkan penyakit jantung bapak kumat.

Sampai pada tanggal 23 Mei 2015 bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Jujur hari itu benar-benar hari yang membuat saya merasa hancur sangat hancur. Saya tidak bisa terima keadaan saat itu, saya tidak mau ditinggal bapak, saya tidak siap. Saya kecewa, kesal, marah kenapa Allah begitu cepat memanggil bapak, kenapa Allah tidak memberi waktu yang lama buat bapak. Saya belum bisa membahagiakan bapak, saya belum bisa memberi apa-apa ke bapak, saya belum bisa membuat bapak bangga punya anak seperti saya.  Saya hancur, melihat bapak yang terbujur kaku di depan mata saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menangis. Namun saya sadar, saya sayang sama bapak namun Allah jauh lebih sayang sama bapak. Saya sadar, Allah tidak mau bapak terus menerus merasakan sakit.

Tepat jam 12.30 malam waktu daerah setempat (Jeddah) saya beserta jamaah umroh lainnya tiba di bandara King Abdul Azis. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Madinah yang di tempuh selama 4 jam dari Jeddah. Selama perjalanan saya merasa takjub dengan pemandangan  gurun pasir dan gunung bebatuan yang ada di kanan dan kiri jalan. Allahuakbar, Allah Maha Besar. Begitu besar kuasa Mu Ya Allah.


Selamat di perjalanan, di sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi gunung bebatuan

Setibanya di Madinah hati saya semakin berdebar-debar, air mata turun begitu deras. Tidak ada kata-kata yang saya ucapkan selain kata-kata bersyukur karna saya diberi kesempatan untuk datang dan tiba di tempat ini. Yaaa Masjiid Nabawi, dimana tempat ini merupakan masjid yang didalamnya berada makan Nabi para umat Islam, Nabi akhir jaman Nabi Muhammad S.A.W

Di Masjid ini saya bertemu dengan semua umat islam dari berbagai Negara dari Turki, Palestina, India, Mesir, Malaysia, Singapura, Brazil dan masih banyak lainnya. Di Masjid Nabawi saya mengalami peristiwa yang tak disangka, dimulai sering di sapa oleh orang-orang yang ada di Masjid Nabawi, diberikan air minum, diberikan kurma sampai ada yang memeluk dan mencium pipi saya (wanita kok wanita). Subhanallah benar-benar indahnya umat islam yang saling menyayangi :”)
Sampai pada suatu siang sebelum shalat zuhur, dua (2) orang wanita cantik berkulit putih menghampiri saya dan rombongan jamaah umroh lainnya yang sedang duduk menunggu waktu zuhur, lalu dia mengatakan
“Assalamu’alaikum, can speak English ?”
tanpa ragu tiba-tiba sayang menjawab “Yes” dengan wajah penuh senyum.
Kemudian wanita itu bertanya kembali “From Indonesia right ?”,
“Of course” jawab saya.
Dengan wajah penuh senang 2 wanita itu mengatakan bahwa dia ingin berfoto bersana dengan saya dan ibu-ibu jamaah lainnya. 2 wanita ini berasal dari Palestine, 2 wanita ini mengatakan bahwa iya seneng dan suka dengan orang-orang Indonesia, dia mengatakan bahwa orang-orang Indonesia baik-baik, sopan dan mau membantu, selalu membantu Negaranya. Oleh karena itu 2 wanita ini ingin sekali foto bersama kami (saya beserta ibu-ibu jamaah lainnya dari travel yang saya ikuti), setelah selesai 2 wanita ini memeluk saya mencium pipi saya. Jujur entah apa yang terjadi pada diri saya, saat itu saya merasa senang dan bahagis bisa bertemu dengan 2 wanita itu, terlebih-lebih mereka mengatakan bahwa mereka suka dan senang dengan orang Indonesia. Namun sayangnya, saya tidak bertanya siapa nama mereka berdua dan saya tidak mengabadikan moment itu di camera saya L

Setelah 3 hari di Madinah saya, mama, mas dani dan jamaah lainnya melanjutkan perjalanan ke kota Makkah, namun sebelum ke kota makkah, kami semua melakukan kegiatan mikot sebelum umroh di masjid bir ali, setelah itu baru kama melanjutkan perjalanan ke masjidil haram di kota makkah. Kurang lebih 5 jam kami menempuh perjalanan kesana (diselingi istirahat).

Sesampainya di kota makkah, suasana sedikit berbeda, angin yang berhembus terasa kencang karena memang Madinah dan Makkah memang sedang mengalami musim dingin, namun dingin di Makkah lebih dingin dari pada di Madinah. Saya dan jamaah lainnya istirahat terlebih dahulu di hotel sampai menunggu waktunya tawaf. Tepat jam 1 saya dan jamaah melanjutkan ibadah tawaf dan menuju ke dalam Masjidil Haram. Ketika masuk masjid, jantung saya terasa berdebar kencang, ditambah saat melihat ka’bah secara langsung, semakin berdebar-debar hati saya. Tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur serta mengucapkan kalimat talbiyah, subhanallah ya Allah saya masih tidak percaya saya bisa kesini, saya bisa melihat ka’bah secara langsung dan dari dekat (karena biasanya melihat ka’bah dari gambar, sekarang bisa melihat secara langsung). Ya ALLAH....

Jujur saat melihat ka’bah dan selama tawaf yang ada di pikiran saya hanyalah Bapak, saya rindu bapak, saya ingin bertemu dengan bapak. Air mata tak henti-hentinya mengalir ke pipi saya, sambil agak terisak saya mengucap kalimat talbiyah. Semua orang yang ada di sekeliling saya (jamaah travel) termasuk mama, hanya bisa mengelus-elus pundak saya, mencoba untuk membantu menghentikan tangis yang terasa terisak dari bibir saya.

Selesai tawaf, banyak do’a yang saya panjatkan, saya paham kesempatan seperti ini sangat sulit didapatkan,saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan terus dan banyak berdo’a serta mengucap rasa syukur atas apa yang telah Allah telah berikan.

Semakin lama, air mata semakin mengalir, hanya bapak yang saya ingat saat itu
“Bapak, ade kangen sama bapak. Ade, mama sama mas sudah sampai sini pak, kita sampai sini dengan selamat pak. Bapak yang ingin kita semua hadir disini bersama-sama pak, bapak yang ingin kita ibadah sama-sama. Bapak ade sayang bapak, ade kangen bapak, ade mau lihat bapak.”

“Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, hanya kepada-Mu aku memohon dan meminta, terpatkan bapakku disisimi, disisi yang terbaik dan terindah di Jannah Mu Ya Allah, Lindungi dan jaga bapak disana Ya Allah, jauhkanlah bapak dari panasnya api neraka Ya Allah, berikan bapak kebahagiaan disana. Serta berikan aku kekuatan serta ketegaran untuk menghadapi ini semua Ya Allah, dan berikan aku selalu kemudahan, serta kelancaraan hidup agar aku bisa membahagiakan mama serta kakakku, beriaku kesehatan agar aku mampu menjaga mama serta kakakku Ya Allah”

Semakin deras air mata yang jatuh ke pipi.
Yaaa mungkin itu segelintir do’a yang bisa saya ucapkan *masih banyak lagi*
*stop dulu yaa nangis-nangisnya, makin nyesek takut gak bisa napas #deritapenyakitkecil*

Lanjuttt.....

Setelah menyelesaikan tawaf, kemudia dilanjutkan dengan sa’i (jalan dari bukit safa ke marwah untuk laki-laki berlari kecil) dan tahalul (gunting rambut). Selesai melaksanakan ibadah umrah yang utama (untuk diri sendiri) saya, mama dan mas dani melanjutkan ibadah di depan ka’bah sambil menunggu waktu subuh, karena waktu setempat sudah menunjjukkan jam 04.00 pagi.

Walaupun jam 04.00 pagi, disini tidak pernah kenal kata sepi, selalu ramai, selalu padat. Banyak dari mereka yang masih melaksanakan ibadah tawaf atau sekedar berdo’a, dzikir ataupun membaca al-qur’an di depan altar dekat ka’bah.



Ohiya kalau di Arab (Madinah & Makkah) terdapat 2 kali adzan. Adzan pertama untuk panggilan shalat tasbih dan tahajud, adzan kedua (selang 1 jam’an) itu adzan untuk shalat subuh. Jarak antara adzan dan ikomat pun sekitar 30 menit-an. Betah deh pokoknya disana, ibadah tuh rasanya tenang, dan merasa selalu diingatkan. Dan saya tuh paling betah duduk di dekat ka’bah, gak mau beranjak rasanya.

Setelah shalat subuh, saya, mama dan mas dani tidak langsung beranjak dari tempat shalat kami. Kami selalu berdiam diri sambil berdzikir maupun membaca al-qur’an. Ketika mata ini jelalatan *apa ini* melihat kesana kemari, tiba-tiba mata ini tertuju pada langit di atas ka’bah. Subhanallah, Allahu Akbar..... saya belum pernah melihat langit seindah ini, langit yang berwarna merah muda dan biru, ditambah adanya bulan yang berwarna putih, yaaa saya suka sekali dengan bulan, tak henti-hentinya saya ucapkan syukur pada Allah, bernar-benar nikmat Allah yang diberikan begitu indah.

Saya merupakan type orang yang suka mengabadikan moment-moment tertentu, makanya pemandangan langit yang indah itu tidak akan saya sia-siakan. Karena saya tahu, moment seperti itu jarang saya temui. Dan ini penampakkan langit subuh di atas ka’bah


Dan masih banyak monet-monet yang membuat saya merasa takjub :”)

Duuh dari tadi cerita panjang lebar malah beneran netesin air mata *dasar cengeng*
Maaf yaa, si pemblog emang cengeng hehe :””)

Selanjutnya saya sedikit cerita tempat-tempat yang saya datangi pas disana :”)
Di bawah yaaaa...

Foto Masjid Kuba di Madinah



Foto saya ini di Jabal Rahmah


Ini Foto di Masjid Nabawi di Madinah


Ini juga di Masjid Nabawi


Ini juga di Masjid Nabawi, diujung kanan ada si mama xixi

Ini mama di pelataran Masjidil Haram, itu juga ada jam raksasa, kalau ga salah itu dibawahnya ada hotel sama mall grand zamzam *maaf kalau salah*

Padang Pasir di peternakkan Unta

Ini di dalem Masjidil Haram

Saya, mas dani dan mama waktu di Jeddah.
Katanya sih itu mirip sepedahnya Nabi Adam a.s hahha yaa wallahu’alam

Ini di peternakan unta bareng sama jamaah umroh lainnya (satu travel)


Foto ini saya ambil dari lantai 2 tempat tawaf

Ini tangan saya pas pegang dan mau meluk ka’bah. Masih sempet-sempetnya foto, padahal ini lagi dempet-dempettan dan dalam keadaan banjir nangis *aneh emang saya* :”)
Waktu mama sama mas dani meluk ka’bah, dan disini saya bener-bener liat mas dni nangis terisak sambil menyebut nama bapak :”), begitu juga dengan mama

Ini foto waktu di Masjid Nabawi di Madinah

Pagi hari di dekat ka’bah, sambil dhuha’an
Ini niatnya foto mama dari samping, eeh malah keambil kepalanya aja, karna suananya rame banget disini :”)


Duhhh kayanya segini aja yaa cerita-ceritanya.. udah kebanyakkan...
Sebenernya masih banyak lagi foto-fotonya, tapi takut nyampah hehe :”)

Cerita ini tidak bermaksud pamer, hanya ingin berbagi cerita aja ke blogger. Dan semoga buat yang belum pernah kesini bisa kesini, dan yang sudah pernah kesini bisa kesini lagi. Aamiin Allahumma’aamiin :”)

NB : Foto-foto yang di share merupakan foto asli yang saya ambil dari smartphone saya, tidak percaya ? bukti ada disaya dan bisa minta ke saya J

Terimakasih blogger......


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh







Instagram : khantydwi
Facebook : Khanty Dwi Ichtyantri
Twitter   : khantydwi

Minggu, 21 September 2014

HAN IN LOVE

HAN IN LOVE





Aku ALiza, seorang anak rantauan dari Negri tetangga, yang diberi kesematan mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan S1 disalah satu Universitas di Seol. Yaap, disini aku tinggal seoarang diri, walaupun begitu aku sudah memiliki beberapa teman yang memang satu kampus bahkan satu jurusan denganku. Salah satu diantara mereka bernama Kristall. Aku dan Kristall sudah lebih dekat dan kebih akrab dulu, mungkin karena apartemen kami bersebelahan dan Kristall pun selalu membantu ketika aku menghadapi kesulitan, terutama kesulitan dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Hidup seorang diri di Negara asing memang awalnya sangat sulit, karena kehidupan disini sangat jauh berbeda dengan kehidupan di Negara asalku. Perlahan namun pasti aku mencoba mempelajari kebiasaan-kebiasan yang dilakukan masyarakat kota ini dengan bantuan Kristall dan kakaknya. Kristall tinggal bersama kakanya yang bernama Taeyon, mereka berdua memang asli Seol, karena itu aku selalu meminta tolong mereka ketika mengalami kesulitan dan mereka pun dengan senang hati akan membantuku.

Pagi ini aku bersama Kristall berencana untuk jogging mengelilingi taman ditepian Hangang, atau yang biasa dikenal dengan nama sungai Han. Sekitar jam 6 pagi setelah shalat subuh aku sudah mempersiapkan diri untuk jogging. Tiba - tiba terdengar suara handphone berbunyi “Yeoboseyo ? Oh ne ne…”, ternyata telephone tersebut dari Kristall yang sudah menungguku di depan lobby appartement, kemudian aku pun bergegas turun ke lobby. Ketika di lobby aku melihat Kristaal bersama Taeyon eonni yang ternyata akan ikut bersama aku dan Kristall untuk jogging. “Annyeong eonni ? waah ternyata eonni ikut juga…?”, kataku dengan riang. “Annyeong Liza shii, ne… aku bosan di kamar, makanya aku mau ikut kalian, biar sekalian fresh juga…”, jawab eonni Taeyon sambil memelukku. Tak perlu waktu lama kami langung menuju taman di tepi sungai Han. Selama jogging, tak hentinya mereka menjelaskan cerita tentang sungai Han, dan mereka menunjukkan tempat-tempat apa saja yang bagus di daerah sungai Han. Kita sempat berhenti sejenak ditepi sungai Han untuk menikmati indahnya pemandangan sungai Han. Subhanallah hati terguncang melihat indahnya pemandangan sungai ini. “Liza ? kamu suka tempat ini ?”, Tanya Kristall padaku. “Ne… aku suka sekali Kristall, mungkin tempat ini akan menjadi tempat favoriteku di Seol..”, jawabku dengan sumringah. “Waktu SMA aku sering datang kesini bersama teman-temanku. Bagaimana kalau kita sering datang kesini juga ? kamu setuju ?”, Tanya Kristall semangat. “Aaaa setuju bangett Kristall…”, jawabku dengan semangat sambil mengambil posisi lompat kecil.

Ketika sedang asik berbicara dengan Kristall dan Taeyon eonni, tiba-tiba terdengar suara pria yang memanggil nama Kristall. “Yaa….Kristall….”, Teriak si pria itu. Sontak aku dan Kritall menengok kebelakang melihat siapa yang memanggil Kristall dengan suara kencang. Ternyata beberapa orang laki-laki yang memang sedang melakukan aktifitas jogging seperti kami. “Yaa..Oppa. Jongging disini juga ?”, Teriak Kristall balik. Mereka semua menghampiri kami yang memang sedang duduk menikmati indahnya sungai Han. “Waah ada Taeyon nuna juga. Iya kita lagi jogging-jogging ganteng aja nih disini. Itu siapa ?”, Tanya si laki-laki pada Kristall sambil melihat kearahku. “Ohyaa kenalin oppa, ini ALiza chingu baru aku dari Negara tetangga”, jawab Kristall sambil merangkul pundakku. Pria itu mengulurkan tangannya padaku. Karena aku tidak terbiasa berjabat tangan dengan seorang pria, maka aku menundukkan badanku sambil mengucap, “Joesonghamnida, jonen ALiza imnida..” dan semua laki-laki itu membungkukkan badannya. “Mianhae oppa, chingu yang satu ini special jadi tidak bisa dipermainkan”, kata Kristall melanjutkan. “Liza, ini Chanyeol oppa dia emang suka sksd gitu orangnya, tapi baik kok. Yang pakai jaket hitam itu Kyungsoo oppa, sebelah kanannya itu Luhan oppa, Sehun, Tao dan Suho oppa. Mereka semua teman-teman aku.”, kata Kristall menjelaskan padaku. Aku hanya memberi senyuman pada mereka semua.

Tiba-tiba Taeyon eonni yang dari tadi asik mendengarkan musik, tiba-tiba mengajukan pertanyaan “Loh Baekhyun shii kemana ?”, “Tadi mau ikut nuna, tapi dia tiba-tiba sakit perut jadi gak ikut deh nuna”, jelas sehun yang dari tadi kelihatan gak bisa diam karena terus-terusan bercanda dengan Tao. Entah hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, aku melihat Chanyeol oppa memandangiku dengan mata yang mengerikan. Agak risih sih ya diliatin pria yang baru di kenal, tapi aku berpikir positif, mungkin pria Korea kalau menatap wanita memang seperti itu. Aku juga gak terlalu mikirin sih. Kemudian kami semua melanjutkan jogging bersama. Lagi-lagi aku memergoki Chanyeol oppa melirikku, kali ini beneran terasa risih, aku mencoba menggeser kearah Taeyon eonni yang memang sedang asik mendengarkan musik dari headsetnya. “Wae..?”, Tanya Taeyon eonni padaku. “Anio eonni..”, jawabku dengan senyum. Ketika selesai jogging, aku diajak Kristall untuk sarapan pagi bersama dengan yang lain, karena memang perutku juga sudah mulai keroncongan, aku pun tidak menolak ajakan Kristall.

Sesampainya ditempat makan, entah kenapa Chanyeol oppa memilih tempat duduk yang berada persis di depanku. “Hyung, disini hyung disini”, teriak Sehun yang menyuruh Chanyeol oppa untuk duduk disampingnya, namun tidak ada balasan dari Chanyeol oppa. Tiba-tiba Kyungsoo oppa datang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun dan langsung menarik kuping Chanyeol oppa untuk pindah posisi tempat duduk. “Aaaaa..appa..apaa…”, teriak Chanyeol oppa kesakitan. Semua orang tertawa termaksud aku, yang melihat kejadian itu. Walaupun posisi tempat duduknya sudah pindah, tetap saja Chanyeol oppa mencuri-curi lirikkan ke arahku. Perasaan risih itu hilang dan timbul perasaan deg-degan “Duuuh aLiza please deh apaan sih pake degdegan segala ??”, ucapku dalam hati. Kristall pun memesankan makanan untukku, sesampainya makanan tiba, ternyatan makanan yang dipesankan Kristall untukku tertukar dengan makanan pesanan Chanyeol oppa, mau tidak mau aku harus ke meja Chanyeol oppa untuk menukar makanannya. “Mianhae oppa, sepertinya makanan kita tertukar ?”, ucapku pada Chanyeol oppa. “Mwo ? Ohiya pantesan aku bingung kok yang dateng ini yaa..”, jawab Chanyeol oppa. “Gomawo..” ucap Chanyeol oppa lagi sambil tersenyum. Aku pun hanya membalas dengan senyuman singkat dan langsung kembali ke tempat dudukku. Ketika sarapan selesai disantap kami semua kembali ke rumah masing-masing.

Siang hari aku menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel yang memang belum sempat aku baca karena terhalang oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk. “Ting nong..”, bunyi bel dari kamar appartementku. Bergegas aku keluar, ternyata Kristall yang berdiri di depan pintu dengan membawa sepiring kue yang berwarna pink dan hijau. “Ini untukmu Lizaa”, kata Kritall sambil menodorkan piringnya padaku. “Waaa, Gomawo. Siapa yang buat ini ?”, tanyaku. “Anio, ini dari Chanyeol oppa.”, jawab Kristall. “Nugu ?”, tanyaku kaget. “Ne, Chanyeol Oppa. Wae ?”, Tanya Kristall balik. “Anio anio.. Ayoo masuk”, jawabku menyangkal. “Liza ya… Chanyeol oppa kayanya suka deh sama kamu ?”, kata Kristall mengejutkan. Aku cuma diam tanpa menjawab sepatah kata pun. “Chanyeol oppa yang menyuruhku mengantarkan kue ini untukmu. Ohiya dia minta kontak kamu, boleh aku kasih gak ?” lanjut Kristall. “Buat apa ?”, tanyaku singkat. “Mungkin dia mau komunikasi sama kamu. Chanyeol oppa itu baik, emang sih keliatannya dia aneh suka gak jelas gitu, tapi Chanyeol oppa itu baik banget. Dia juga suka nolong aku sama eonni kalo lagi kesusahan. Chanyeol oppa itu juga sahabatnya namjachingu Taeyon eonni.”, kata Kristall mencoba menjelaskan. “Namjachingu Taeyon eonni ? Nugu ?”, tanyaku lagi. “Baekhyun oppa..”, jawab Kristall. Dan aku baru tahu ternyata, laki-laki yang saat jogging ditanya eonni Taeyon adalah namjachingu-nya. Dan aku memutuskan untuk tidak memberikan kontk pada Chanyeol oppa, karena memang aku masih takut dan belum berani dengan orang yang baru aku kenal.

Keesokkan harinya, aku melakukkan aktifitas kuliah seperti biasa. Berangkat kuliah selalu bersama Kristall, masuk kelas pun selalu bersama Kristall, tapi kalau ke kamar mandi gak pernah bareng *ya iya lah*. Ketika perkuliahan selesai aku memutuskan pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan presentasi minggu depan. Ketika sampai perpustakaan, aku berpapasan dengan laki-laki yang tidak asing dipenglihatanku. “Ya.. Aliza ?”, tanyanya sambil menunjukku. “Ne..Kyungsoo oppa ?”,”Ne, kamu masih ingat dengaku ?”, tanyanya balik. “Bagaimana bisa lupa, oppa yang menarik kuping Chanyeol oppa saat sarapan pagi hehe..”, jawabku menyakinkan. Kemudian kami memutuskan untuk mencari buku bersama. “Liza, Chanyeol hyung sudah menghubungimu ?”, tanya Kyungsoo oppa dengan suara yang kecil, karena takut terdengar penjaga perpustakaan. “Anio, wae oppa ?”, tanyaku balik. “Kemarin dia bilang kalau dia suka sama kamu pada pandangan pertama, dan dia mencoba untuk meminta kontakmu sama Kristall.”, jelasnya. Ternyata benar kata Kristall, Chanyeol oppa suka sama aku. Sebelum aku menjawab Kyungsoo oppa sudah mengajukkan pertanyaan lagi “Kamu sudah memberi kontakmu ke Chanyeol ?”, ”Anio oppa, aku memang yang menolak untuk tidak memberikan kontakku pada Chanyeol oppa.” Jawabku jelas. “Wae ? Chanyeol itu…”, “Sssssst…”, suara dari penjaga perpustakaan yang memutuskan pembicaraan Kyungsoo oppa karena terlalu keras dan mengganggu pengunjung lainnya.

Kemudian kami memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan buku yang dicari pun sudah ada. Ketika keluar perpus, aku melihat Kristall berjalan dengan seorang laki-laki. Yaaa laki-laki itu tinggi dan perawakannya pun tidak asing bagiku, itu Chanyeol oppa. Tiba-tiba perasaan itu muncul lagi, degdegan itu timbul lagi, aku bingung aku panik dan hampir salting saat itu juga. “Kyungsoo yaaa…”, teriak Chanyeol oppa. “Zaa please zaa please, don’t be panic. Jangan sampe salting”, ucap dalam hati. “Annyeong.”, ucap Chanyeol oppa padaku. “Kyungsoo oppa, ajarin aku matematika please.”, ucap Kristall pada Kyungsoo oppa. “Gaja, kita ke perpustakaan.”, ajak Kyungsoo oppa pada Kristall. Dan akhirnya mereka meninggalkan kami berdua. Kondisi paling gak aku suka ya kondisi kaya gini, jadinya awkward banget. Aku Cuma bisa senyam-senyum gak jelas karna memang bingung apa yang harus dikatakan. “Ke kantin yuk”, ajak Chanyeol oppa. Lagi-lagi aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menganggukkan kepala dan berjalan menuju kantin. Sampai di kantin Chanyeol oppa mencoba memulai pembicaraan denganku “Mianhae, kalau seandainya aku mengganggu kamu..”, “Anio oppa anio”, ucapku memutuskan perkataan Chanyeol oppa. Sangking geroginya malah memutuskan pembicaraan orang. Yapp akhirnya kami bisa mengobrol dengan santai karena memang Chanyeol oppa yang membuat suasana terlihat tidak canggung. Dan pada akhirnya pun aku member kontakku pada Chanyeol oppa. Sempat beripikir, kenapa disini aku terlihat gampangan sekali memberika kontak pada orang lain.

Malam harinya terlihat handphone berbunyi, dan ternyata Chanyeol oppa mengirim pesan padaku. Aku pikir Chanyeol oppa sama seperti laki-laki lain pada umumnya yang hanya basa-basi ketika mengirim pesan untuk menanyakan Sedang apa ?, sudah makan ? sudah mandi ? dan pertanyaan lain yang memang merupakan pertanyaan yang biasanya diajukkan untuk anak kecil. Aku dan Chanyeol oppa melanjutkan pembicaraan yang kita bicarakan saat di kantin kampus. Chanyeol oppa menanyakan banyak hal padaku, dari mulai mengapa mengambil kuliah di Seol ? kemudian apa motivasi kuliah disini, apa visi dan misi hidup yang aku jalani dan lain sebagainya. Bahkan dari pembicaraan ini kami bisa saling tukar pendapat dan informasi. Informasi mengenai Seol dan Jakarta.

Semakin hari, hubungan aku sama Chanyeol oppa semakin baik. Chanyeol oppa juga sering membantuku banyak, hal diantaranya mengerjakan tugas kampus. Aku dan Kristall pun sering melakukan kegiatan bersama Chanyeol oppa dan kawan-kawannya. Sampai pada akhirnya Kristall menanyakan hal yang saama sekali tidak terlintas dibenakku “Zaa, jadi kamu udah jadian sama Chanyeol oppa ?”, “Hah ? Ya engga lah, kita tuh cuma temenan.”, kataku sambil tertawa . “Masih ? Chanyeol oppa pernah cerita ke aku kalau dia suka sama kamu, dia juga cerita ke temen-temennya.”, tanya Kristall serius. “Ayooo zaa jawab…”, paksa Kristall yang penasaran karena pertanyaanya aku abaikan. “Nanti aja yaa chingu, aku bingung”, jawabku lemas dan bergegas meninggalkan Kristall.

Pertanyaan Kristall pun menjadi bahan pemikiranku, “Apa benar Chanyeol oppa suka sama aku ? atau sebatas suka aja ? apa yang diliat dari aku coba ?. Mana mungkin sih, laki-laki sekeren itu suka sama gadis rantauan macam aku ini. Apa yang hebat dari aku ? perasaan biasa-biasa aja deh. Ehh tapi kok aku jadi mikirin ya ? Apa jangan-jangan aku suka juga ? Aaa…. Aliza Aliza please stop stop, jangan mimpi terus..”, ucapku dalam hati sambil memukul pelan jidatku. Tak lama setelah tepok jidat, handphoneku berbunyi dan ternyata itu pesan dari Chanyeol oppa yang berisi tulisan “Saranghyeo, aku tunggu kamu di taman belakang appartement”. Hati degdegan, rasanya mau copot, ini maksudnya apa ? ini mimpi bukan ? salah liat nih mata kayanya min mau naik lagi aaaa…. rasanya gak percaya sama semua ini. “Dateng gak yaa, dateng gak yaaa ? Kalau dateng tandanya aku beneran suka juga tapi kan tujuan kesini itu kuliah bukan cari jodoh, kalau gak dateng tapi kan emang suka. Duuh mesti gimana ini ?”, ucapku rewel. “Chingu yaaaa, wae …? Bingung banget keliatannya…”, tanya Kristall mengagetkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku langsung menunjukkan pesan yang dikirim Chanyeol oppa ke Kristall “Tuh kan bener, sudah sana ke taman, pasti Chanyeol oppa udah nunggu kamu.”, kata Kristall semangat. “Kristall, kamu tahu kan tujuan aku kesini untuk apa ? Aku kesini untuk kuliah, bukan untuk cari jodoh. Aku cuma gak mau nantinya malah mengecewakan ayah dan bunda. Aku ga mau Kristall.”, jawabku lesu. “Yaa chingu, aku tau tujuan kamu kuliah. Tapi kamu tetep gak akan bisa membohongi hati kamu. Saat kamu berhubungan dengan Chanyeol oppa, kamu masih bisa focus kuliah kan ? Chanyeol oppa pun selalu membantu kamu kan ? Aku yakin liza, Chanyeol oppa pasti akan selalu membimbing kamu.”, bujuk Kristall meyakinkanku.

Tak ada lagi yang bisa aku katakan pada Kristall, aku hanya diam dan menjawabnya dengan senyuman. Sampai saat ini pun aku bingung apa yang harus aku lakukan. Tetap datang atau menghindar. Teringat pula pesan ayah dan bunda yang menyuruh ku agar fokus pada tujuanku untuk kuliah. Tapi aku juga gak bisa bohongin diri sendiri kalo aku memang menyimpan perasaan itu juga. Semakin bingung harus bersikap seperti apa. Namun pada akhirnya aku tetap harus mengambil keputusan. Dan aku memutuskan untuk tidak datang dan pergi ke tepian sungai Han untuk menenangkan pikiran. Entah berapa jam aku duduk di pinggiran sungai Han sambil mendengarkan music-music mellow, tiba-tiba ada seseorang yang memberikan segelas bubble tea kepadaku. Ketika aku melihatnya ternyata orang itu adalah Chanyeol oppa. Saat itu aku bingung dan super duper heran, Chanyeol oppa kok bisa tau aku disini, kok mau sih Chanyeol oppa nyamperin aku kesini. “Oppa ? Mianhae….”, ucpaku. “Gwenchana, aku udah tau semua”, ucapnya dengan senyuman. “Kristall ? Oppa, tau aku disini juga dari Kristall ?”, tanyaku penasaran. “Ne… Kristall cerita semua ke aku. Aku nunggu kamu di taman, tapi kamu ga muncul-muncul. Aku kirim pesan gak kamu bales, aku telpon pun gak kamu angkat. Makanya aku memutuskan untuk bertanya ke Kristall. Dan akhirnya Kristall menjelaskan ke aku.” Jawabnya menjelaskan. Lagi-lagi tak ada yang bisa aku takkan, aku hanya diam sambil memandangi air yang mengalir di sungai Han.

Secara tiba-tiba Chanyeol oppa mengeluarkan seikat mawar putih dari tangannya dan mengucapkan “Aku udah tau semua, kamu juga gak bisa bohongin perasaan kamu. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu. Aku akan berusaha untuk bimbing kamu. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu aktifitas kuliah kamu. Kita sama-sama saling mendukung dan menemani. Mau kamu selalu ada untuk aku ?”, Tanyanya serius. Bingung, sangat bingung, rasanya ingin berteriak “Bundaaa anakmu galau bunda…”. Perlahan aku merancang sebuah kata-kata dengan baik agar tidak sampai slaah berbicara. “Mianhae oppa, aku gak bisa janji selalu ada untuk oppa, tapi aku akan berusaha ada disaat keadaan apapun.”, jawabku dengan senyum kecil. “Jadi kamu mau ?”, tanyanya heran. “Kita jalanin dulu aja oppa, kedepannya pun kita belum tau kita jodoh atau engga. Semua itu sudah diatur Tuhan, tinggal kita yang menjalankan dan berdoa. Untuk ayah dan bunda, aku akan coba bilang ke beliau tapi tidak dalam waktu yang cepat.”, kataku menjelaskan. Chanyeol oppa hanya membalas dengan senyuman bahagia yang terpancar dari wajahnya. “Jangan lupa kenalin aku ke ayah dan bundamu yaaaa”, katanya lanjut. Aku hanya membalas dengan anggukkan dan senyuman. Dari sinilah kami akan memulai cerita baru bersama, dengan saksi pohon-pohon, angin, dan aliran air dari Sungai Han ini.

Alhamdulillah semakin hari kami menjalin hubungan dengan baik, bahkan hubungan kami pun akhirnya disetuji bunda, karna aku sudah menceritakan hal ini pada bunda. Bunda pun berpesan :
“Bunda gak akan ngelarang kamu punya teman special. Bunda hanya pesan, tetap fokus pada tujuanmu dan tetap jaga jarak dengan teman specialmu itu. Kamu wanita nak, kamu pun tinggal sendiri disana. Jaga dirimu baik-baik. Ayah dan Bunda selalu mendoakanmu dari sini. Bunda sayang Aliza”
Akhirnya Chanyeol oppa pun sudah kenal dengan ayah dan bunda, karena kita sempat skype’an bersama. Aku pun akan dikenalkan dengan orang tua Chanyeol oppa. Yaaap, sungai Han akan tetap menjadi tempat favorite kami berdua. Jika memang kita jodoh, mungkin tempat ini akan menjadi tempat yang akan selalu kami kunjungi selama hidup kami. Tapi jika memang kita tidak berjodoh, kami akan tetap bersahabat dan akan selalu datang ketempat ini untuk mengenang masa-masa kami bersama.


-TAMAT-




Cerita ini hanya fiktif belaka!